Malam itu, tanggal 23 Februari, Bunda merasa capek sekali. Mungkin karena terlalu memforsir diri. Mulai dari bekerja (Bunda handle 2 pekerjaan), hingga beberes rumah. Siang harinya, Bunda sempat menyikat kamar mandi.
Jam 22.00, Bunda sudah bersiap-siap tidur, ketika terasa ada yang tidak biasa di bawah sana. Bunda periksa, dan…kekhawatiran Bunda terbukti. Ada flek. Bunda segera memanggil Abi. Bunda panik sekali. Abi tampak berusaha biasa saja, tapi bingung juga, karena saat mengandung Hana dulu, hal seperti ini tidak terjadi.
Bunda pun menelepon Bidan RS Hermina, sambil minta maaf karena mengganggu malam-malam. Tapi menurut sang Bidan, tindakan Bunda sudah benar dengan mengontaknya. Sang Bidan menyarankan agar Bunda memantau terus flek itu. Jika membanyak, sebaiknya segera ke RS.
Hingga pagi tiba keesokan harinya, flek itu masih ada. Sekitar jam 8 pagi, Bunda pun mengirimkan BBM kepada Dr. Didi. Oleh Dr. Didi yang biasa Bunda panggil dengan sebutan Oom Didi, Bunda disarankan periksa saja sore itu, saat beliau praktik.
Saat diperiksa dengan USG, the baby tampak sedang bergerak-gerak seru. Alhamdulillah, menurut Oom Didi the baby baik-baik saja. Abi dan Hana yang turut mengantar tampak lega dan tertawa-tawa melihat the baby. Sayang, kami lupa mengabadikan momen itu. Karena terlalu panik dengan flek sepertinya.
Kemudian, Bunda pun periksa dalam. Ternyata masalah hanya di seputar mulut rahim.
Setelah itu, seperti biasa, kami pun mengobrol. Bunda masih khawatir dengan flek tersebut. Tapi, Oom Didi, seperti biasa juga, berhasil membuat Bunda tidak terlalu khawatir lagi.
Sore itu, Oom Didi tampak lebih segar bila dibandingkan dengan saat pertama kali Bunda konsul. Bunda senang sekali. Dalam hati, Bunda berdoa demi kesembuhan beliau. Bunda sudah membayangkan akan dibantu oleh Oom Didi lagi pada saat kelahiran kedua nanti.
Setelah mencium tangan Oom Didi, Bunda pun pulang. Di rumah, Bunda mengabarkan kepada Mama dan adik ipar, yang keduanya juga kelahirannya dibantu Oom Didi, bahwa Oom Didi tampak segar. Bunda juga memberi tahu bahwa the baby baik-baik saja, Alhamdilillah. So, everybody was happy.
Tapi, mengapa pemeriksaan kedua itu menjadi pemeriksaan terakhir dengan Oom Didi?
(To Be Continued)