Konsultasi ke Dokter Ahli Gizi

Tadi Muhammad, usia 8 bulan 13 hari, konsultasi ke dokter ahli gizi, alias dokter spesialis anak dengan subspesialis gizi, yaitu dr. Aryono, SPA(K). Ini adalah kali kedua Muhammad bertemu dengan dr. Aryono.

Pertama kali sekitar 1,5 bulan yang lalu, ketika dr. Mulyadi, SPA(K) yang menangani jantung Muhammad, menyarankan agar kami membawa Muhammad konsultasi ke dokter ahli gizi. Saat itu diberikan dua nama dan kami memilih dr. Aryono karena Hana pernah ditangani oleh beliau, sehingga Bunda merasa nyaman–eh iya, penting lho rasa nyaman buat kita orang tua saat konsul, nanti deh Bunda bahas secara khusus (gaya, padahal palingan curhat hehe).

So, apa sih yang dilakukan saat konsultasi gizi? Dokter yang hanya menerima 2 pasien konsultasi gizi setiap praktik ini memeriksa Muhammad mulai dari panjang badan, berat badan (yang dicek di nurse station), hingga lingkar kepala.

Untuk berat badan, saat penimbangan, Muhammad tidak boleh mengenakan sehelai benang pun. :) Memang iya sih. Kalau dengan pakaiannya, beratnya bisa lebih lho. Apalagi kalau pake selimut seperti di gambar ini. Hehe.

Setelah data panjang badan, berat badan, dan lingkar kepala diketahui, dr. Aryono menghitung sesuatu di gadget-nya. Lalu, memberikan jadwal makan yang harus dipatuhi.

Tadi berat Muhammad bertambah, tapi hanya 200 gram. Sehingga, pola makannya diatur kembali.

Sebenarnya, mengapa penting sekali kita sebagai orang tua memantau perkembangan pertumbuhan bayi, termasuk berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala? Di sini, dr. Widodo Judarwanto menjelaskan dengan mendetail.

Berikut ini kutipannya:

Pertumbuhan dan perkembangan anak adalah masalah kesehatan yang sangat penting untuk selalu diperhatikan sejak dini. Seringkali gangguan pertumbuhan terjadi setelah usia 6 bulan tak terdeteksi dengan baik. Keadaan ini baru disadari setelah usia agak besar. Bila gangguan pertumbuhan terjadi, biasanya juga disertai kekurangan nutrisi lainnya, seperti zat besi, kalsium, mineral dan vitamin lainnya.

Oleh sebab itu, pemantauan pertumbuhan anak sejak lahir sangat penting. Selain dapat menentukan pola normal pertumbuhan anak, juga dapat menentukan permasalahan dan faktor yang memengaruhi dan mengganggu pertumbuhan anak sejak dini. Bila diketahui secara dini, maka pencegahan dan penanganan gangguan pertumbuhan tersebut dapat diatasi sejak dini.

Karena itu, perlu kita perhatikan juga penyebab nya. Berikut ini Bunda coba jabarkan ke dalam beberapa poin:

  • gangguan fungsi saluran cerna
  • kesulitan pemberian ASI  pada “insufficient milk supply syndrome”
  • infeksi kronis (HIV,TBC)
  • infeksi saluran kencing
  • ketidaknormalan kromosom (down syndrom dan turner syndrom)
  • gangguan sistem organ besar seperti jantung, ginjal, otak
  • ketidaknormalan sistem hormon seperti kekurangan hormon tiroid, kekurangan hormon pertumbuhan, hormon pituitary, diabetes, adrenal, atau kekurangan hormon lainnya
  • kerusakan otak atau susunan saraf pusat, juga dapat menyebabkan gangguan kesulitan makan sehingga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan.
  • ketidaknormalan jantung dan sistem pernapasan, yang mengakibatkan gangguan distribusi oksigen dan nutrisi pada seluruh tubuh seperti gagal jantung kongestif, cystic fibrosis, nemia atau kelainan darah lain
  • fetal alcohol syndrome
  • keracunan makanan
  • penyakit keganasan
  • kemiskinan
  • child abuse
  • perawakan pendek

Duh, beberapa jabaran di atas bikin serem juga ya? :) Tenang aja, nggak selalu seserem itu kok.

Misalnya Muhammad, kabarnya bayi yang memiliki riwayat PJB (Penyakit Jantung Bawaan) memang memiliki berat badan lebih rendah karena kerja jantungnya lebih berat sehingga membutuhkan lebih banyak energi. Serem? Nggak juga. Lalu, diam saja karena memang sudah dari sananya memang nggak gemuk? Hehe. Yang kami cari bukan gemuknya, melainkan untuk memastikan tidak ada perkembangan yang terhambat dari kurangnya berat badan Muhammad. Karenanya kami konsul ke dokter ahli gizi dahulu. Jika memang diperlukan akan dicek ke klinik tumbuh kembang.

Sebenarnya, yang penting kita sebagai orang tua memantau terus agar tidak kecolongan. Mungkin ada orang di sekeliling yang ingin menenangkan hati kita dengan mengatakan, “Ah, itu biasa. Nggak apa-apa.” Menghadapi yang seperti ini, senyum saja dan jangan didebat atau jangan diikuti apa adanya. Menurut Bunda, yang perlu dilakukan sebenarnya sederhana saja, cek ke dokter spesialis anak yang biasa menangani bayi kita. Dengan ilmu dan pengalaman mereka menghadapi berbagai macam pasien, mereka dapat memberi diagnosa yang tepat. Karena kita dan orang awam lainnya kan hanya bisa mengira-ngira dan menebak, kadang tanpa ilmu.

*Hm…kok kayaknya jadi ngelantur? Hihi.*

Well, intinya, selalu periksakan dan pastikan anak baik-baik saja. Bahkan, kalau perlu second opinion, lakukan. Dan, pantau terus ya, perkembangan bayinya, Ayah-Bunda.

Semoga anak-anak kita sehat selalu.

(Maaf kalau ending-nya agak ngelantur dari judul, ini sambil nungguin Hana yang tadi batuk-batuk hebat, tapi setelah dibalur dengan vicks dan dipijitin, kayaknya enakan.)

Foto di atas lucu ya? Sumbernya ada di SINI.

Pentingkah Punya Termometer di Rumah?

Sangat penting. Setiap kali anggota keluarga demam, Bunda selalu cek dengan termometer, kemudian catat suhu tubuh dan jam pemeriksaannya. Agar dapat dilaporkan ke dokter saat konsultasi, sehingga dokter bisa dengan mudah mendiagnosa penyakitnya.

“Beberapa jenis kuman akan menimbulkan pola demam yang khas sehingga membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit, seperti demam malaria yang disertai rasa dingin menggigil dan diselingi masa tanpa demam, bervariasi 1-3 hari; demam berdarah dengue (DBD) bersifat saddle horse, yaitu demam tinggi selama 3 hari pertama, diikuti penurunan suhu pada hari ke 4 atau 5 kemudian naik kembali pada hari ke 7; demam tifoid menyebabkan kenaikan suhu tubuh terutama pada sore dan malam hari lalu membaik pada pagi dan siang hari.

Demikian pentingnya aspek demam dalam menentukan diagnosis, sehingga suhu tubuh dijadikan sebagai salah satu pemeriksaan tanda vital pada seorang pasien. Selain itu suhu tubuh juga digunakan untuk memantau perkembangan penyakit yang sedang diterapi, apakah membaik atau bertambah berat.

Pemantauan suhu tubuh di rumah amat penting untuk dilakukan agar data mengenai penyakit yang diderita dapat lebih akurat. Keparahan penyakit dapat diketahui dengan segera.

Suhu tubuh manusia normal berkisar antara 36,5 – 37,5 oC (Celcius). Seorang pasien dikatakan demam jika suhu tubuhnya berada diatas 37,5 oC. Suhu tubuh diatas 38,5 oC dikategorikan sebagai demam tinggi, penderita harus dibawa ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut mengenai demam yang dideritanya. Suhu di atas 40 oC termasuk kondisi berbahaya dan harus diturunkan dengan segera.”

(Disarikan dari: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/07/22/sediakan-termometer-di-rumah-anda-380483.html)

Anak Demam Dikompres?

Sekedar sharing:

Kenapa kompres saat demam tidak boleh air dingin?

Sebab, kalau tubuh dikompres es atau air dingin, suhunya tak turun, malah makin tinggi. Ini terjadi karena mekanisme tubuh yang sedemikian rupa, dimana jika kondisi di luar dingin, maka tubuh akan menginterpretasikan kalau dirinya kurang panas. Akibatnya, tubuh pun akan tambah panas. Selain itu, efek dingin bisa membuat pembuluh darah di permukaan kulit jadi mengecil. Alhasil, panas yang seharusnya dialirkan oleh darah ke kulit agar keluar, terhalang karena jalannya terhambat. Kompres dingin juga bisa membuat pusat pengaturan panas dalam tubuh jadi kacau. Saraf-saraf yang digunakan untuk melihat atau memantau suasana di luar tubuh menangkap kesan, di luar tubuh dingin, sehingga tubuh pun akan bertambah panas. Kendati kompres dingin sudah tidak lagi dianjurkan karena berdampak negatif (kecuali pada kasus luka memar dan luka bakar).

Kompres paling efektif untuk menurunkan suhu tubuh balita adalah dengan air hangat. Karena, bila tubuh dikompres dengan air hangat, pusat suhu tubuh akan menerima informasi bahwa suhu di sekitar tubuh sedang hangat. Tubuh pun akan menurunkan suhunya secara otomatis. Caranya gimana?

- Sebelum mengompres, sediakan baskom kecil berisi air hangat dengan suhu ± 38ºC. Basahi handuk atau waslap dengan air hangat tersebut.

- Saat mengompres, buka baju balita. Letakkan handuk di ketiak dan lipatan paha, bukan di dahi. Ketiak dan lipatan paha dilintasi pembuluh darah besar, sehingga segera memberi sinyal ke pusat pengatur suhu di otak untuk menurunkan demam. Kompres bagian tersebut ± 10 menit. Bila handuk sudah berkurang hangatnya, ulangi lagi dengan membasahinya dengan air hangat. Kompres lagi sampai suhu tubuh anak menurun.

- Selesai mengompres, seka bagian yang habis dikompres (kemungkinan basah) dengan cara menekan-nekan kulit, jangan digosok. Gunakan handuk kering. Kenakan kembali baju si kecil. Pilih baju yang tipis dan longgar sehingga membantu meredakan demam melalui proses penguapan.Tutupi anak dengan selimut tipis apabila kedinginan atau menggigil.

Semoga berguna. :)

(Disarikan dari uraian dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A di milis Bayi Kita dan artikel AyahBunda.co.id)

1 2 3 78