Anak dan Lomba
Hari ini, Hana kembali mengikuti sebuah lomba mewarnai. Sebelumnya, Hana juga pernah ikut lomba serupa.
Menang? Nggak kok.
Kecewa? Kayaknya nggak.
Bunda selalu menanamkan kepada Hana bahwa jika ia sampai menang, ia harus bersyukur, mengucap alhamdulillah. Tapi, jika kalah, tak mengapa.
Tadi, Bunda mengatakan kepada Hana, “Na, tau nggak apa yang menyenangkan dari lomba yang tadi Hana ikuti?
“Apa, Bunda?”
“Hana bisa mewarnai bersama-sama teman-teman yang Hana nggak kenal. Kan menyenangkan.”
“Iya ya, Bun.”
Buat Bunda, dalam lomba, yang penting bukan menang atau kalahnya. Tapi, kesenangan yang bisa didapatkan anak. Jadi, saat lomba, Bunda nggak pernah memberi saran bagaimana Hana melakukannya. Bunda memberi kebebasan sepenuhnya kepada Hana untuk berkreasi dan berekspresi.
Nggak perlu lihat hasil orang lain yang lebih bagus. Nggak perlu membandingkan dengan karya anak lain. Apapun dan bagaimanapun hasil pekerjaan Hana, Bunda selalu memberikan pujian. Yang Bunda hargai adalah usahanya.
Menang adalah nomor terakhir dalam daftar manfaat yang bisa diambil dari mengikuti sebuah perlombaan. Kalah bahkan satu nomor di atas menang. Karena, dengan kalah, mudah-mudahan anak belajar menerima kenyataan, belajar memahami bahwa memang ada yang jauh lebih baik darinya — sehingga tidak boleh sombong, belajar mengenal istilah ‘fair‘ dalam perlombaan.
Nah, saat lomba tadi, banyak sekali orang tua yang ikut heboh. Ada yang menjadi kuda bisik — itu loh, kalau dalam teater, kuda bisik adalah yang membisikkan kalimat yang tak sengaja terlupa oleh tokoh — alias memberi instruksi kepada si anak harus melakukan apa. Ada juga yang memaksa si anak yang sudah menangis dan tidak ingin melanjutkan lomba. Ada juga yang ketakutan anaknya kalah.
Yang lebih parah adalah seorang bapak yang protes sambil marah-marah saat anaknya tidak menang. Oke, memang hasil karya anaknya bagus, lebih bagus dari yang menang. Tapi, apakah bijak mengatai hasil karya anak yang menang?
Kesalahan memang terletak pada panitia yang tidak memberikan penjelasan sejelas-jelasnya mengenai kriteria pemenang. Tapi, sudahlah. Andai mungkin si bapak berkata kepada anaknya bahwa karya si anak memang bagus dan ia hanya kurang beruntung, tentu si anak tidak akan merasa kecil hati.
Si anak pastilah kini sedih karena bapaknya mengamuk seperti itu. Kami saja, para orang tua, cukup shock melihat pertikaian tadi. Karena, mungkin banyak juga yang yaaahhh santai sajalah. Yang penting anak bersenang-senang.
Entah bagaimana kelanjutannya. Yang terakhir kami dengar, panitia bersedia menilai ulang — kasihan si anak yang sudah dinyatakan menang ya? Kami memilih pulang dengan terus tersenyum dan memuji hasil karya Hana meski ia tidak menang. Dan, Hana pun dapat menikmati siang yang menyenangkan bersama keluarga.
Kompetisi memang perlu diajarkan sejak dini. Tapi, anak juga perlu belajar berlapang dada dan memahami bahwa mungkin ketidak-fair-an sesekali terjadi dalam kehidupan. Yang penting adalah, bagaimana kita menghadapinya tanpa emosi.








untuk menambah pengalaman anak juga ya mbak, dan sebaiknya orang tua pun belajar berlapang dada kalau anaknya tidak menang. Kasihan anak akalu melihat ortunya kecewa
kejadian yg sama ketika dulu Iyog ikut lomba mewarnai di UI
ibu dan bapaknya sibuk nyuruh2 anaknya, kasian deh si anak, salah ambil krayon aja diteriakin …huuuu
@ Mb Lidya: itu dia, kasian sama anaknya juga…
@ Shanti: bener banget…dibilangin suruh gini, gitu…hayah, lepasin aja ya…kalo mang anaknya berbakat ya bagus kok
yg ptg anak hepi…