Anak Mandiri

Saat ini, yang Bunda paling harapkan dari Hana adalah kemandirian. Bukan apa-apa, dia sudah kelas 1 SD. Jadi, sudah harus bisa urus diri sendiri. Apalagi kalau misalnya nanti sudah diberi adik oleh Sang Maha Pencipta. Bunda kan tidak bisa mengurus Hana dari A sampai Z lagi.

Walau kalau boleh jujur, Hana sepertinya sedikit lebih mandiri daripada Bunda saat seumurnya. *tertunduk malu, pipi merah merona*

Ada beberapa kiat yang Bunda terapkan agar Hana menjadi mandiri. Di antaranya:

  • Menjadi Bunda yang pemalas. Hihi…seperti yang pernah Bunda ceritakan di sini: Bunda males banget kalau pagi-pagi sudah harus berapi-rapi ria. Hubungannya? Begini, kalau mau mengantar Hana ke sekolah dan sampai kelas, ya minimal Bunda sudah berpakaian lengkap plus berwajah segar — minimal bedak dan lipstik, plus sedikit sapuan pensil alis. Supaya nggak malu-maluin banget. Apa trik Bunda untuk menghindari itu? Bunda mengajak Hana bicara, menjelaskan bahwa ia sudah cukup besar untuk turun dari mobil dan pergi ke kelas sendiri. Berhasil! Sekarang, Hana sudah bisa melakukannya sendiri. Bunda bisa mengantar Hana dengan berdaster ria! Yippy!
  • Menempatkan Hana sebagai ‘anak dewasa.‘ Biasanya, kalau makan, Bunda masih bantu Hana, supaya tidak berantakan. Sekarang, Bunda diamkan meski nasi berceceran di sekitar piring. Hana harus membersihkannya sendiri. Mudah-mudahan, perlahan-lahan, Hana bisa makan sendiri tanpa berantakan.
  • Say no to Mbak alias asisten rumah tangga alias ART. Sudah lebih dari setengah tahun ini Bunda tidak memiliki asisten yang tinggal bersama kami. Ada sih yang bantu sapu-ngepel, cuci piring, dan menyeterika — mencuci baju masih Bunda kerjakan sendiri. Akibatnya, Hana juga harus melakukan beberapa aktivitas sendiri. Lumayan. Sekarang, Hana nggak apa-apa minta tolong. Dia sudah bisa melakukan sendiri. Bahkan sekarang Bunda yang sering minta tolong sama Hana. (Nahlo?!)

Yah, lumayan lah sekarang ini. Cuma satu yang repot. Meski kadang Hana bisa mandiri dalam bermain — misalnya main game komputer, tapi ada kalanya Hana butuh teman untuk diajaknya bermain. Bunda tidak bisa setiap waktu menemani Hana bermain. Jadi, kadang kasihan juga.

Sekarang, yang Bunda harus lakukan adalah mencari cara agar Hana bisa mandiri dalam bermain. Ada saran, Moms & Dads? ;)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

4 Responses to “Anak Mandiri”

  1. Lidya says:

    pascal juga belum bisa main sendiri kemanapun mamanya pergi diikuti padahal didalam rumah

  2. Indahjuli says:

    Punya adik :D
    Dulu, Lily sebelum punya adik, dia asyik sendiri bermain (sampai sekarang juga asyik main sendiri, suka lupa sama adiknya).

  3. nia/mama ina says:

    Sarannya dikasih adik, biar Hana ada teman bermain dirumah hehheh…..

    Kalo ina, aku sering perhatiin dia malah lebih anteng main sendiri ketimbang ada temannya. Dia suka berimajinasi, main rumah2an…trus bertamu kerumah orang, ketuk pintu dulu, trus buka sandal, baru masuk rumah…..ato dia suka berimajinasi bawa sesuatu/benda, trus ditaroh disuatu tempat. Tapi kadang dia suka ngajak mamanya utntuk ikutan rumah2an juga, dan mamanya harus ikutin perintahnya dia. Begitu juga kalo main sm teman2nya. Ina yang ngatur teman2nya harus ini harus itu. Makanya sering berantem kalo main sm teman.

    Hana mungkin sebentar lagi bisa mandiri kali Bun.

  4. Bunda says:

    @ Mb Lidya: Kalau Ibu di rumah, anak mang nempel banget gitu ya? Hihi…kita nikmatin aja kali ya? Kalo dah remaja, takutnya malah susah nempel…hiks.

    @ Mb Indah: Hahaha! Solusinya memang itu keknya. Tapi, khawatir juga. Perbedan usia yang jauh dengan adiknya takut juga menghambat kedekatannya dengan si adik nantinya. Mudah2an nggak ya :D .

    @ Mama Ina: Hihi iya…bener. Hana sih sering main sendiri, berimajinasi. Tapi, sepertinya dia juga butuh seorang teman bermain yang real. Mungkin karena dia sudah 6 tahun, jadi perkembangannya menuntut sosialisasi yang lebih. Mudah-mudahan sebentar lagi lebih mandiri. Amin. :D

Leave a Reply