Belajar Bijak dari Anak

Humaidah adalah seorang batita bijak yang kemarin berulang tahun ke-2. Seperti anak lainnya, Humaidah ceria, tak bisa diam, tapi kadang langsung mengkeret kalau bertemu orang baru dan kalau sudah akrab akan santai lagi. Nah, selain itu, ada yang bijak dari anak ini yang bisa kita pelajari.

Bunda pernah ia buat terpingkal-pingkal saat memberikan Humaidah sebuah boneka Minnie. Bunda pikir, Humaidah yang sangat suka karakter Minnie akan senang jika diberi boneka Minnie. Tapi, apa yang terjadi?

Saat Bunda dengan bangganya mengeluarkan boneka Minnie dari kantong dan memberikannya kepada Humaidah, ia justru berkata, “Unya, unya…” sambil menunjuk ke arah kamarnya.

Awalnya Bunda bingung. Umminya juga. Tapi ternyata, maksud Humaidah adalah, “Sudah punya, ada di kamar, nggak usah dikasih lagi.”

Huahahaha! Kontan kami terpingkal-pingkal. Ya ampun, karena dia sudah punya, dia pikir tidak perlu lagi sebuah boneka Minnie lainnya. Padahal bentuknya tidak sama persis lho! 😀

Di lain kesempatan, ada seorang kerabat dari Singapura yang sedang berkunjung ke Jakarta. Humaidah, bersama abah dan umminya menemani sang kerabat berbelanja. Saat melihat ada baju bergambar Minnie (ya, lagi-lagi Minnie), sang kerabat ingin membelikan baju itu untuk Humaidah. Yup, tentu sudah bisa ditebak, kata ‘unya-unya’ kembali keluar dari mulut batita kecil menggemaskan itu.

Sang kerabat bersikeras hendak membelikan. Bagaimana reaksi Humaidah? Ia langsung membuka jaket yang ia kenakan dan berkata, “Nih, unya!”

Hihi…ternyata kaus di balik jaket itu bergambar Minnie! Semua pun kembali terpingkal. Bahkan sang kerabat tampak kagum dan berkata, “Sungguh bijak anak you,” kepada abah Humaidah. 😉

Ya, benar sekali komentar sang kerabat. Dulu Bunda hanya melihatnya sebagai hal yang lucu, tapi iya juga ya…bijak sangat Humaidah ini. Dia sudah punya, dia tak memerlukan benda yang sama lagi. Buat apa? Mubazir.

Tertohok juga rasanya. Kadang kita menginginkan benda tertentu hanya karena hawa nafsu meskipun sudah punya. Berdalih bahwa benda itu gambarnya beda, atau warnanya lain, atau fungsinya tidak persis sama. Padahal, ya itu sekedar pembenaran atas dorongan keinginan hawa nafsu semata. Hm…ya, Bunda merasa perlu belajar dari Humaidah.

Dan hari ini, diadakan acara ultah kecil-kecilan untuk si Mungil Humaidah. Dan si Abi bersikeras agar Bunda memberikan kado yang Humaidah sudah punya. Hiya…sungguh tidak bijak. Haha. Bunda pun membelikan mainan lain yang Humaidah belum punya dan memilihkan sepasang jepit rambut Minnie. Ya, dengan harapan Humaidah bereaksi seperti sebelumnya, karena si Abi pingiiiiin banget lihat Humaidah dengan unya-unya-nya.

Well, Humaidah memang smart. Saat Abi memberikan jepitan itu, Humaidah mengambilnya dan tidak menolak! Haha. Gagal deh si Abi. Itu karena yang Humaidah punya adalah bando Minnie, jepit belum punya! Hihi!

Dan, kami kembali mengakalinya. Bunda mengambil salah satu mainan Humaidah dan meminta Abi memberikannya kepada Humaidah. Bagaimana reaksinya? Dia memandang Abi bingung dan tetap menerima mainan itu. Haha! Kayaknya dia tau, itu memang punya dia. Gagal maning!

Tenang ya, Bi, berdoa saja Humaidah akan terus bijak dan kita carikan benda lain yang serupa tapi tak sama (seperti saran umminya Humaidah) supaya Abi bisa lihat dan degar langsung realso ‘unya-unya’ dari Humaidah. :)

Happy birthday, Humaidah. Semoga semua doa indah untuk Humaidah diijabah Allah dan tetap selalu bijak. Bunda loves you! Kakak Hana, Adek Muhammad, dan Abi, too :).

Mari Berbagi
(Visited 38 times, 1 visits today)
, , , ,
8 comments on “Belajar Bijak dari Anak
  1. Pingback: [Celoteh Anak] Antara Ipul, Atun, dan Cabe | Tingkah Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *