Cek Jantung Rutin ke PJT RSCM

Tadi pagi, Bunda dan si Abi membawa Muhammad ke PJT RSCM untuk cek rutin yang biasa Muhammad lakukan setiap 6 bulan (dulu per 1 bulan, lalu per 3 bulan, sekarang Alhamdulillah sudah per 6 bulan). Cek rutin itu mencakup cek jantung dengan echo dan cek alat pacunya. Cek jantung dengan dr. Rubyana , lalu cek alat pacu dengan Mbak Wulan, operator alatnya.

Kembali ke PJT selalu membawa kesan tersendiri. Teringat saat kami harus menghabiskan beberapa hari di sana, menjaga Muhammad. Teringat saat pertama kali Bunda melihat Muhammad di ICU pasca operasi, deg-degan, bertanya-tanya apakah dia kuat melewati semua. Teringat saat Bunda hampir pingsan setelah menjaga Muhammad dari pagi hingga sore (abinya yang jaga malam) pada hari ke-4 setelah lahiran. Teringat rasa lega bercampur ketakutan saat Muhammad diperbolehkan pulang, bagaimana kalau Bunda salah merawatnya di rumah? Teringat rekan-rekan seperjuangan Muhammad juga para orang tua mereka ruang rawat inap PJT. Saat anak-anak tidur, Bunda dan ortu lain kerap berbagi kisah dan saling menguatkan.

Ada kisah yang lucu saat Muhammad masih dirawat. Salah seorang ortu pasien kerap menyalakan musik dari HP-nya, dan musiknya itu dangdut koplo hihi. Kebetulan tempat tidurnya persis di seberang Muhammad. Tidak berani menanyakan langsung ke si ibu, Bunda pun bertanya kepada suster, kenapa ibu itu pasang lagu dari HP-nya sampai keras-keras begitu. Ternyata si ibu mendapat saran dari dokter, bahwa bayinya akan merasa nyaman jika dipasangkan musik atau bebunyian lain. Kata suster, sudah diingatkan supaya dipasangkan lagu yang tenang, misalnya musik klasik, sholawat atau apa. Tapi entah kenapa dangdut koplo lagi yang dipasang. Hihi. Dan, lucunya, memang si bayi tidak terlalu rewel jika musik itu dinyalakan. Well, Bunda yang awalnya agak terganggu pun berusaha memaklumi dan berdamai dengan keadaan, meskipun harus membacakan doa dan sholawat untuk Muhammad dengan iringan musik heboh — yang berusaha Bunda abaikan. Mungkin itu yang namanya kebersamaan dalam keberagaman.

Tadi kami menyambangi PJT lagi, bertemu dengan orang tua lainnya lagi, yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Bunda tahu mereka berasal dari mana karena biasanya, saat menunggu giliran cek di poli PJT, saya sempatkan mengobrol dengan ortu lain yang sedang mengantar anak mereka cek atau berobat. Saling sharing bagi yang sudah tindakan, juga saling menguatkan. Kepada yang baru akan dioperasi atau tindakan lain, yang baru mau cek apakah anaknya ada PJB (Penyakit Jantung Bawaan) atau memastikan PJB jenis apa, Bunda berusaha berbagi apa yang Bunda ketahui, menenangkan hati, dan menyemangati mereka.

Seperti tadi ada seorang nenek yang membawa cucunya yang berusia 8 bulan, dirujuk untuk ke PJT. Bunda berusaha membesarkan hatinya, bahwa banyak anak dengan PJB yang tumbuh sehat setelah tindakan. Supaya si nenek lebih tenang dan tidak terlalu sedih lagi. Ada pula seorang bapak yang datang dengan tim sebuah RS dan bayinya yang berusia 2 hari di dalam inkubator — ingat Muhammad dulu juga gitu. Kasusnya hampir serupa dengan Muhammad, denyutnya tidak seperti bayi kebanyakan. Bunda pun sharing sedikit tentang kisah Muhammad dulu kepada si bapak. Melihat Muhammad yang sibuk lari sana-sini bersama pasien kecil lainnya, bapak itu tampak lebih tenang. Setelah bayinya selesai diperiksa oleh dr. Piprim, si bapak cerita lagi ke Bunda, bahwa Alhamdulillah bayinya tidak memerlukan tindakan. Saya ikut senang. *Sambil dadah2 ke dr. Piprim hehe tadi sebenernya mau ngobrol/tanya-tanya sedikit (hiya, sok akrab) tapi Dokter sudah ditunggu para pasien, jadi hanya sempat menyapa. Yang mau ditanya nanti kalau kami ke Rumah Vaksin aja deh.*

Hasil cek Muhammad sendiri, Alhamdulillah baik. Dari echo-nya, secara fisik, diketahui jantungnya sudah baik-baik saja. Sehingga mulai sekarang Muhammad cek jantung hanya setahun sekali. Alat pacunya pun bekerja dengan baik, namun tetap cek alat 6 bulan lagi dari sekarang.

Yang Bunda simpulkan dari obrolan hari ini dengan orang tua pasien lainnya: listen to your heart dan gerak cepat. Jika memang merasa ada yang salah dengan bayi kita, langsung cek ke dokter anak dan minta dengarkan baik-baik apakah ada bising jantung dan ceritakan semua tentang anak kita. Karena, dari obrolan saya tadi, beberapa anak lambat diketahui ada PJB karena nakes tidak mendengar bising jantung saat memeriksa bayi ketika imunisasi atau cek rutin dan orang tua yang awam dengan gejala PJB — terutama pada bayi yang tidak biru — mungkin saat periksa tidak memberitahukan kepada nakes tentang keseharian bayi yang padahal merupakan gejala PJB, seperti misalnya saat bayi menyusu pada ibunya sering kali terhenti karena mengalami sesak nafas atau bayi tidak menyedot dengan cukup kuat atau misalnya berat badannya tidak ada kenaikan. So, gapapa cerewet sedikit, karena dari paparan kita tentang keseharian bayi kita, dokter bisa mendiagnosa dengan lebih teliti.

Well, demikin ‘sedikit’ sharing Bunda tentang beberapa jam yang Bunda lewatkan di PJT RSCM. Akhirul kalam, semoga Allah selalu melindungi anak-anak kita dan memberi mereka kesehatan. Aamiin YRA.

Mari Berbagi
(Visited 179 times, 1 visits today)
, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *