Cerita Ana si Ada-ada Saja (1)

Hari ini Ana senang sekali. Kata Papa, Mama dan Adek bayi akan pulang dari rumah sakit. Sudah empat hari Ana menunggu Mama dan Adek pulang. Ia membayangkan hari ini pasti akan sangat menyenangkan!

cerpen-anak-kakak-adikSeperti biasa, Mama akan memasak makanan yang enak-enak, akan mengajaknya bermain, akan menemaninya jalan-jalan keliling kompleks setiap sore.

Bocah yang belum genap berumur empat tahun itu bahkan berinisiatif menyambut kedatangan Mama dan Adek. Setelah melihat Oma sibuk memasak di dapur, ia berpikir, ia tak ingin mengganggu Oma. Ia berjingkat ke kamar Mama dan Papa, tempat boks bayi Adek diletakkan.

Kamar itu terlihat sepi di mata Ana. Ia pun berpikir keras, apa yang dapat ia lakukan untuk menyambut Mama dan Adek? Sekelebat, mata Ana berkilat senang. Ia sudah tahu apa yang hendak ia lakukan.

Semenit kemudian, tampak Ana sibuk berlarian dari kamarnya menuju kamar Mama-Papa sambil membawa boneka. Satu boneka, dua boneka, tiga boneka, sampai berkali-kali ia bolak-balik.

Oma melirik dari dapur. Dari pandangannya, tampak Ana sedang asyik berlari sambil menggendong boneka. Oma tenang, Ana bisa bermain sendiri.

Tapi Oma tidak melihat. Selain sibuk menggendong bonekanya dari kamarnya ke kamar Mama-Papa, Ana juga membawa kertas krep, origami, gunting khusus anak kecil – yang tidak tajam tapi bisa untuk menggunting kertas itu, lho – juga kotak manik-manik kecil dan beads yang biasa ia dan Mama gunakan saat bermain membuat gelang dan kalung.

Selesai membawa semua itu ke kamar Mama-Papa, Ana melihat sekeliling kamar, berpikir, ia harus mulai dari mana. Ia memandangi boneka-boneka yang ia bawa tadi. Ana berusaha menghitung. One, two, three…sampai ten, lalu ia terdiam. Setelah ten apa, ya? Ana lupa. Ia belum genap berusia empat tahun walau jika ditanya berapa umurnya ia akan menjawab sepuluh! Tapi ia pikir, semua boneka ini cukup karena setelah ia menghitung sampai ten, masih ada banyak lagi yang tersisa.

Lalu, ia menjejalkan semua boneka itu di dalam boks Adek. Pasti Adek senang ditemani banyak boneka, pikirnya sambil tersenyum bangga, kan tidak enak bobok sendiri. Tapi kemudian ia mengernyit. Ia merasa isi boks kurang meriah. Lalu ia pun menggunting-gunting kertas origami yang tadi ia bawa hingga potongan kecil, dan taraaa…ia sebarkan semua isinya ke dalam boks. Ditambah lagi dengan kertas krep! Ah, meriah sekali sekarang. Lalu Ana memandangi manik-manik dan beads di wadahnya. Warnanya ceria sekali, mengundang Ana untuk menyebarkannya juga ke dalam boks Adek. Senyuman Ana semakin lebar.

Mama, Papa, dan Adek pastiiii senang!

Tiba-tiba terdengar suara mobil Papa memasuki carport. Ana senang banget. Dari jendela kamar Mama-Papa, Ana bisa melihat mobil berhenti, pintunya dibuka dan…Mama!!! Mama turun dari mobil. Tapi Mama menggendong siapa ya, itu? Ah, iya…Adek! Huh! Mestinya, Mama menggendong dirinya, pikir Ana. Memangnya Mama tidak kangen sama Ana? Wajah Ana mulai keruh, tapi kemudian ia melihat boks bayi yang telah ia ‘hias’ dan kembali tersenyum. Ia membayangkan Mama pasti akan senang dan langsung melemparkan Adek ke Papa dan menggendong dirinya.

Sementara di luar kamar, Mama heran dan bertanya kepada Oma. “Ana ke mana, Bu? Kok dia nggak menyambut aku sama adeknya?”

Oma tersenyum bijak, “Sejak tadi dia asyik main sendiri dengan bonekanya. Coba lihat di kamarnya.”

Mama dan Papa tersenyum membayangkan Ana bermain.

“Biar Mama tarok si Adek dulu di boks, Pa, baru menemui Ana. Pasti dia mau kangen-kangenan sama Mama. Mumpung si Adek bobok.”

Papa pun membukakan kamar mereka untuk Mama yang masih menggendong Adek. Oma mengikuti dari belakang.

Dan, saat pintu dibuka, Ana teriak, “Taraaaaa!!!”

DOENG!!! Mama, Papa, Oma, terkejut setengah mati. Dan Adek, dia pun langsung, “Oweeek!!! Oweeeekkk!!!”

“Annnnaaaaa!” desis Mama tertahan. “Adek lagi bobok, tuh kan jadi bangun.”

Ana menunduk, bingung, kok dia dimarahi?

Tapi setelah itu, bukan hanya Ana yang bertanggung jawab atas tangisan kencang Adek, karena si Papa juga teriak kencang sekali. “Ya, ampuuuun!!!”

Oma dan Mama langsung menoleh ke arah Papa yang sedang berdiri di sebelah boks bayi dan tercengang. Tampak semua boneka dan ‘hiasan’ ala Ana.

Mama tampak syok. Oma bengong. Bagaimana dengan Ana? Tentunya ia dengan bangga memamerkan, “Bagus kan, Mama, boks Adek, sekarang?”

Mama lemas, Papa meringis, sementara Oma menahan tawa. Sedetik, dua detik, Oma bisa menahan tawa, tapi akhirnya, tawa Oma lepas juga.

“Hahaha!!! Ana! Kamu ada-ada saja! Brilian! Manis sekali, kamu, Ana!” Oma malah memuji Ana.

Ana pun tersenyum bangga. Ya, hanya Oma yang menganggap Ana brilian dan manis sekali. Mama dan Papa? Mereka hanya meringis dan saling pandang, lalu menatap si Adek sambil sama-sama berpikir, dengan kakak yang ‘brilian’ seperti Ana, bagaimana nasib bayi ini selanjutnya?

Picture from: cliparts.co/clipart/5111

Mari Berbagi
(Visited 21 times, 1 visits today)
,
3 comments on “Cerita Ana si Ada-ada Saja (1)
  1. Pingback: Cerita Ana si Ada-ada Saja: Jempol! (2) | Tingkah Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *