Dapatkah Hana mengatasinya?

Kemarin sore, sebelum bersih-bersih malam–sebelum tidur, Hana selalu bersih-bersih–, Hana curhat kepada Bundanya.

“Bunda, sekarang Hana nggak boleh main lagi sama Nana (nama disamarkan).”

hana-sekolah

“Siapa yang nggak ngebolehin?”

“Mutia (nama disamarkan).”

Aku cek ke Mbak-nya yang memang mengantar Hana ke sekolah setiap hari.

“Iya, Bu. Bu Gurunya juga udah nasihatin Mutia supaya nggak begitu. Kalau duduk di kelas, Hana nggak boleh dekat-dekat Nana, main juga nggak boleh.”

Awalnya, memang Hana paling dekat dengan Nana. Ia merasa nama mereka serupa. Dan, Nana juga tipe anak manis yang Bundanya pikir akan sedikit membawa pengaruh baik ke Hana.

Nah, persahabatan mereka disusupi oleh Mutia yang entah kenapa tidak main lagi dengan dua anak lainnya, Melati dan Dina (nama keduanya disamarkan).

Mereka memang kemudian terlihat akrab bertiga, Hana, Nana dan Mutia.

Tapi, nampaknya, Mutia berusaha menguasai Nana dan mengeluarkan Hana dari persahabatan mereka.

Si Abi terheran-heran, kenapa anak sekecil itu (TK A!) sudah bisa gank-gank-an begitu.

Bunda Hana pun mencari akal. Satu sisi, Hana nampaknya begitu kehilangan Nana–yang kebetulan anaknya nurut-nurut saja jika didominasi, dan kebetulan saat ini Mutia lebih mendominasi. Tapi, memaksakan Hana kembali ke dalam persahabatan bertiga itu juga agaknya kurang tepat. Takut memberikan dampak kurang baik.

Akhirnya, Bunda jelaskan kepada Hana bahwa berteman bisa dengan siapa saja, tidak harus melulu dengan Nana. Hana juga bisa berteman dengan yang lain.

Mula-mula Hana masih keukeuh ingin bersahabat dengan Nana, tapi setelah dibahas terus oleh si Bunda, akhirnya sepertinya Hana mau mencoba berteman dengan yang lain.

Mungkin ini kesempatan baik buat Hana untuk bersosialisasi dengan anak-anak lainnya.

Tadi pagi, setelah ikut rapat komite di sekolah, Bunda mengintip kelas Hana. Hana duduk di antara Melati dan Dina.

Sore tadi, Bunda tanya ke Hana mengenai itu dan dengan tersenyum Hana menceritakan pengalamannya duduk di antara dua teman lainnya.

Mudah-mudahan semua ada hikmahnya.

Mari Berbagi
(Visited 9 times, 1 visits today)
,
3 comments on “Dapatkah Hana mengatasinya?
  1. sy blm pernah ngalamin kejadian spt ini sie.. Tp bener y mbak.. sebaiknya kita membiarkan anak memilih penyelesaiannya sendiri. Paling kita hanya kasih panduan aja..

  2. Pingback: Kepusutan | Tingkah Anak

  3. Anak-anak saya di lingkungan rumahnya mengalami hal seperti itu.Teman2nya mendominasi anak2 saya. Kebetulan dari segi umur anak2 saya masih kecil di banding mereka.Tapi saya tdk begitu khawatir, karena saya perhatikan anak2 saya jika merasa didomonasi teman2nya mereka memilih keluar dari permainan. Dan mencari permainan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *