Dongeng Putri Malika: Burung Luka
[Dongeng ini dikisahkan Bunda untuk Hana sebelum ia tidur, tanggal 08 Februari 2009)]
Suatu pagi, Putri Malika baru saja selesai shalat Subuh. Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan seekor burung dari kejauhan.
Putri Malika begitu sedih. Ia pun segera keluar mencari asal suara itu.
Ia berjalan ke belakang istana dan menemukan seorang perempuan tua sedang menangis.
“Wahai Ibu, kenapa menangis? Dan, suara itu berasal dari mana? Suara rintihan burung itu?” tanya Putri Malika.
Sambil terisak, Ibu tua penjaga istal kuda itu menunjuk ke arah sebuah meja kayu di dekat pintu istal, dan berkata, “Burung itu terjatuh karena menabrak istal kuda dan kedua sayapnya patah.”
“Kasihan sekali. Mari, Bu, kita bawa ke tabib istana. Nanti, jika burung ini sudah sembuh, kita lepaskan ia ke alam bebas.”
Maka, burung yang terluka itu pun dibawa ke pemondokan sang tabib. Tapi, sayang, sang tabib tak bisa menyembuhkannya.
“Saya bukan tabib hewan. Saya tak dapat menyembuhkan seekor burung.”
“Jadi bagaimana, Tabib?”
“Kita berdo’a saja demi kesembuhan burung ini.”
Meski kecewa kepada sang tabib, Putri Malika turut berdo’a. Ia berdo’a dengan sangat khusyuk, sambil memejamkan mata.
Tak berapa lama kemudian, ia membuka matanya kembali. Ia pun menemukan burung itu masih dalam keadaan luka.
“Tabib, do’a kita tidak terjawab.”
“Belum tentu, Putri.”
Putri Malika masih terlihat kecewa.
Hari berlalu dan burung itu terlihat semakin kesakitan. Saat Putri Malika datang menjenguknya ke pondokan sang tabib, burung itu nampak begitu lemah.
Tiba-tiba, ia dan sang tabib mendengar suara ketukan di pintu.
“Assalamu’alaikum…”
Putri dan tabib berpandangan, lalu menjawab salam, “Wa’alaikum salam warrahmatullah wabarakatuh.”
Tabib membukakan pintu.
“Subhanallah. Ternyata engkau yang datang, Sahabatku.”
Masuklah seorang pria berpakaian putih bersih.
“Putri, kenalkan ini sahabat saya. Ia seorang tabib hewan terkenal di kerajaan sebelah. Ia pasti bisa menyembuhkan burung itu.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Ada burung yang sakit?” tanya sang tabib hewan.
“Iya,” jawab tabib istana. “Aku tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan seekor burung yang sayapnya patah.”
“Serahkanlah kepadaku. Aku yang akan menyembuhkannya,” ujar sang tabib hewan.
“Baiklah. Tapi, mengapa kau tiba-tiba datang mengunjungiku?” tanya tabib istana.
“Entah mengapa, hatiku menyuruhku segera ke sini. Sudah lama kita tidak bersilaturahmi.”
“Subhanallah. Pasti Allah lah yang mengirimmu. Kami baru saja berdo’a untuk kesembuhan burung ini. Dan, Allah mengetuk hatimu untuk menemuiku.”
Putri Malika yang berdiri di belakang kedua tabib itu tersenyum dan berucap syukup kepada Allah SWT. Jika kita berdo’a dengan khusyuk, Allah pasti akan memberikan jalan dan mengabulkan permintaan kita, pikir sang putri.
Beberapa hari kemudian, burung itu pun telah sembuh. Lukanya sudah mengering. Dan, ia siap untuk kembali terbang di angkasa.
Putri Malika membawanya ke hutan istana yang terhubung ke hutan belantara negerinya. Ia melepaskan burung itu di sana.
“Terbanglah tinggi, burung indah…Allah telah menghadiahkan kesembuhan untuk sayapmu..terbanglah…dan nikmati pemberian-Nya itu…”
Burung itu pun terbang tinggi, berputar-putar, dan mengeluarkan suara nan riang…diiringi senyum sang putri.
[Dongeng ini dikisahkan Bunda untuk Hana sebelum ia tidur, tanggal 08 Februari 2009)]


February 10th, 2009 at 11:45
Wah, dongeng yang sederhana tapi bermakna..;)
February 10th, 2009 at 14:50
weeew..ngarang sendirii nanad?…ajariin apaaaah?..buat koleksi cerita si Mbem (insya Allah)
February 10th, 2009 at 18:07
February 10th, 2009 at 18:11
Hehe iya…tenag aja. Tar juga kalo dah jadi emak, Tante Ning kreatip deh…
February 15th, 2009 at 00:32
jadi inget dulu pernah didongengin nenek
February 15th, 2009 at 08:09
Jadi ikut kangen nenek…
Jangan sedih lagi ya, Mas…