Dongeng Putri Malika: Koming
[Dongeng ini dikisahkan Bunda untuk Hana sebelum ia tidur, tanggal 09 & 10 Februari 2009)]
Suatu sore, sebelum tiba waktu Ashar, Putri Malika berjalan menuju Masjid Istana. Seperti biasa, ia akan melaksanakan shalat di sana, berjamma’ah dengan ayahnya, Sang Raja, dan ibunya, Sang Ratu, beserta seluruh penghuni istana lainnya.
Beberapa langkah lagi menuju beranda Masjid, Putri Malika bertemu dengan Pak Komang, sang muadzin dan pengurus Masjid.
“Loh, Pak Komang kok masih di sini? Sebentar lagi Ashar tiba, Pak. Bapak kan harus adzan.”
“Allahuakbar…Allahuakbar…!”
Terdengar suara lantang dari Masjid. Siapa yang sedang adzan?
Pak Komang tersenyum, sementara Putri Malika bergegas menuju Masjid Istana. Ia ingin tahu siapa gerangan anak yang sedang adzan itu. Anak? Iya, anak. Suara itu suara anak kecil. Bukan suara orang dewasa.
Dari shaf perempuan, Putri Malika melihat tubuh kecil itu. Ia sedang melantunkan adzan dengan indahnya.
Setelah Shalat berjamma’ah dengan dipimpin oleh Sang Raja, Putri duduk di teras Masjid. Ia menunggu si anak kecil itu.
Tak lama kemudian, Pak Komang keluar Masjid diikuti oleh anak tersebut.
“Putri, kenalkan ini Koming, anak saya.”
“Ooh…ini anak Bapak?”
“Iya. Saya Koming, Putri. Senang bertemu dengan Putri.”
“Sama-sama, Koming. Oh ya, kenapa Koming tidak pernah kelihatan sebelumnya? Apakah Koming tidak tinggal di lingkungan istana?”
“Tidak, Putri,” jawab Pak Komang. “Koming mondok di pesantren. Sekarang ia sedang libur.”
“Pesantren? Apa itu?”
“Pesantren adalah tempat belajar banyak hal, ilmu agama, juga ilmu lainnya. Tapi, kita tinggal di sana. Semacam asrama, Putri,” jelas Koming.
“Ooh…begitu,” Putri Malika mengangguk-angguk. “Oh ya, Koming, kita main di taman yuk?”
“Maaf, Putri. Meskipun libur, saya tetap harus melatih bacaan Al-Qur’an saya.”
“Ooh…begitu ya? Aku boleh ikut mendengarkan?”
“Tentu boleh, Putri.”
Putri Malika pun mendengarkan Koming melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan indahnya hingga waktu Maghrib. Dan, mereka kembali sholat berjamma’ah di sana.
Ternyata, setelah Maghrib, Koming tetap di Masjid. Ia berdo’a dan membaca buku-buku berbahasa Arab.
Putri Malika begitu kagum kepada Koming. Dalam hati, ia juga ingin bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Ia teringat guru mengaji istana yang selalu datang setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at. Ia menyadari bahwa belakangan ia sering membolos mengaji. Setelah ayahnya sang Raja membangun sebuah taman bermain yang luas untuknya di samping istana, ia jadi lebih suka ke sana.
Tapi, ia benar-benar ingin bisa mengaji seperti Koming. Maka, keesokan paginya, ia menemui Koming di rumah Pak Komang yang terletak di belakang istana.
“Koming, maukah engkau mengajari aku mengaji?” pinta Putri Malika.
“Wah, senang sekali kalau saya bisa mengajari Putri mengaji. Kita mulai sekarang? Di Masjid ya?”
Putri Malika tersenyum, “Ayo…”
Sejak itu, Putri selalu rajin belajar mengaji. Bahkan setelah Koming kembali ke Pesantren.
Tiga bulan kemudian, Koming datang lagi ke istana. Dan, betapa bahagianya ia ketika mengetahui bahwa Putri sudah lancar membaca Al-Qur’an.
[Dongeng ini dikisahkan Bunda untuk Hana sebelum ia tidur, tanggal 09 & 10 Februari 2009)]








dongeng nya baguuuus bangeeet bun…dapet darimana…?? boleh ya aku ambil buat diceritain ke azka ma kika kalo mo bobo…
Terima kasih, Mbak…
*blushing*
Itu dongeng karanganku sendiri…
ha ha ha sembari mengenal kaan hana dengan pesantreeen yaak naaad? =P
hahaha…begitulah, Tante Ning…
bagus ceritanya aku terkesan