Dongeng Putri Malika: Sakit Perut

[Dongeng ini dikisahkan Bunda untuk Hana sebelum ia tidur, tanggal 16 Februari 2009]

Pagi yang cerah. Putri Malika telah selesai belajar menulis dan sekarang ia hendak ke dapur istana untuk mencicipi makanan buatan Pak Koki.

Ternyata, di dapur tidak ada siapa-siapa. Namun, di meja makan, terdapat sepiring kue bolu yang nampaknya lezat. Karena lapar setelah belajar tadi, Putri Malika langsung menyantap kue tersebut.

Selesai menikmati kue bolu yang lezat dan meminum segelas air putih, Putri Malika kembali ke ruang belajarnya. Kali ini, ia akan belajar berhitung.

putriTengah hari, pelajaran selesai. Putri Malika pun segera ke kamarnya untuk berganti pakaian, lalu berwudhu. Sebentar lagi waktu Dzuhur tiba.

Tapi…

“Aduhhhh…”

Putri Malika memegang perutnya dan menunduk dalam-dalam.

“Perutku sakit.”

Pada saat yang bersamaan, Bibi Dayang melewati kamar Putri.

“Kenapa, Putri?”

“Perutku sakit sekali, Bi…”

Maka, Bibi Dayang segera memanggil Ratu, ibu Putri Malika. Ratu segera mengoleskan perut Putri Malika dengan minyak ramuan khas istana yang selalu tersedia.

Saat adzan Dzuhur berkumandang, rasa sakit di perut Putri Malika berkurang. Maka ia pun segera berwudhu dan bersama sang Ratu berjalan menuju Masjid istana.

Setelah selesai sholat Dzuhur berjamma’ah, Putri Malika makan siang. Setelah itu, ia ke perpustakaan istana untuk melanjutkan membaca buku kesukaannya.

tiara-mahkotaWaktu Ashar tiba, ia kembali sholat berjamma’ah di Masjid istana. Selepas itu, ia bermain bersama beberapa temannya di taman istana. Ia bermain jungkat-jungkit, perosotan, ayunan, petak umpet, dan banyak lagi.

Sore pun tiba. Putri Malika lelah dan agak lapar. Ia segera menuju dapur istana. Ada Pak Koki yang sepertinya baru saja mengeluarkan kue dari penggorengan.

“Kue apa itu, Pak?” tanya Putri Malika.

“Ini kue kesukaan Putri. Risol,” jawab Pak Koki dengan senyum mengembang.

Putri Malika pun segera mengambil kue itu dan menyantapnya.

“Enak, Pak!”

“Looohhhh…Putri tidak cuci tangan dulu?” tanya Pak Koki.

Putri Malika tersenyum malu, “Lupa, Pak. Aku lapar sekali nih…”

Setelah memakan dua buah kue dan meminum susu cokelat kesukaannya, Putri Malika kembali ke kamarnya. Ia harus mandi dan bersiap-siap sholat Maghrib di Masjid istana.

Tapi…

“Aw…aku sakit perut lagiiii…”

Bibi Dayang yang sedang membersihkan kaca jendela di lorong menuju kamar Putri mendengar teriakan itu dan segera bergegas ke sana.

“Kenapa, Putri?”

“Sakit perut lagi, Bi…”

Bibi segera memanggil Ratu dan ke dapur untuk mengambil air putih hangat. Di dapur ia bertemu Pak Koki.

“Putri sakit perut, Pak Koki. Tadi dia makan apa?”

koki“Putri hanya makan kue buatanku.”

“Tapi, kok sakit perut ya? Tadi pagi juga begitu…”

“Hm…rasanya aku tahu penyebabnya.”

Pak Koki pun mengikuti Bibi Dayang ke kamar Putri Malika.

“Pak Koki, ada apa?” tanya Ratu.

“Saya ingin melihat keadaan Putri Malika, Ratu. Masih sakit perut, Putri?”

Putri Malika mengangguk lemah.

“Putri…tadi Putri ingat tidak? Sebelum makan kue, Putri tidak cuci tangan kan?”

Wajah Putri Malika bersemu merah.

“Ya ampun, Malika…pantas saja kamu sakit perut,” keluh Ratu.

“Maafkan Malika, Bunda. Tadi pagi juga Malika tidak cuci tangan sebelum makan kue bolu. Mungkin karena tangan Malika kotor, maka Malika sakit perut.

“Maafkan Malika juga ya, Pak Koki. Malika tidak mendengarkan peringatan Pak Koki.

“Bibi Dayang, maafkan ya. Malika jadi merepotkan.

“Malika janji…Malika akan mencuci tangan sebelum makan.”

“Dan, jangan lupa berdo’a,” tambah Ratu sambil mencium pipi Putri Malika.

[Dongeng ini dikisahkan Bunda untuk Hana sebelum ia tidur, tanggal 16 Februari 2009]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply