Indahnya ng-ASI

Tahun 2004, Bunda pertama kali mengenal indahnya ng-ASI alias menyusui bayi. Rasanya senang sekali bisa menyusui Hana.

Tapi, oh, banyak sekali kendala. Mulai dari ide yang tertanam di benak Bunda bahwa mama Bunda sendiri ASI-nya sedikit, jadi kami (ketiga anak mama) hanya mendapatkan ASI paling lama 3 bulan, hingga berbagai informasi tentang repotnya memberi ASI jika si ibu bekerja.

Walhasil, Bunda benar-benar hanya memberi ASI untuk Hana selama 3 bulan. Parahnya, 3 bulan itu pun diselingi dengan susu formula! Me-nye-dih-kan!

Sayangnya, Bunda baru ‘melek’ ASI saat Hana berusia 7 bulan. Sebenarnya belum terlambat, kabarnya relaktasi masih dapat diusahakan. Tapi entah kenapa, Bunda sudah menyerah sebelum berjuang. Me-ma-lu-kan!

Tapi, Alhamdulillah, dengan Muhammad, kisahnya berbeda. Bunda sudah semakin ‘melek’ ASI. Sehingga meskipun ASI Bunda bukan yang sur-sur alias mengucur deras, tampaknya tetap cukup untuk Muhammad.

Setiap kali menyusui, selalu muncul perasaan takjub yang indah di benak Bunda, ya ampun, manusia kecil ini menggantungkan asupan makanannya hanya dari tubuhku. Subhanallah.

Dan hingga usia hampir 5 bulan ini, Muhammad masih ASI. Hanya satu malam saat dirawat di RSCM dan ASI Bunda belum keluar banyak, Muhammad terpaksa kena sedikit susu formula — Bunda masih belum jejeg pikirannya, masih kalut, jadi pasrah aja gitu, hiks. Tapi, setelah itu, apapun dan bagaimanapun, Bunda selalu mengusahakan ASI untuk Muhammad.

Barusan, Bunda main ke situs AIMI, dan menemukan fakta bahwa berdasarkan riskesdas 2010, angka pemberian ASI eksklusif bagi bayi berusia di bawah 6 bulan adalah sebesar 15,3%.

Duh, mengejutkan! Oke, Bunda tahu, memang masih banyak yang terpengaruh formula, tapi sekecil itu?! Kok bisa?!

Fiuh, sesukses itu kah kampanye susu formula? Padahal, kalau dipikir-pikir, banyak sekali warga Indonesia yang kekurangan. Dan mereka memberi formula yang harganya tidak murah itu? Padahal ASI yang jauh lebih bagus justru dapat mereka berikan tanpa mengeluarkan sepeser pun?!

Dulu, untuk susu Hana, per bulan Bunda mengeluarkan dana yang sangat besar! Ratusan ribu hanya untuk susu formula. Bayangkan, berapa banyak yang bisa ditabung jika Bunda menyusui Hana langsung.

Tapi penyesalan tiada guna. Sekarang, yang Bunda dapat lakukan, sebisa mungkin adalah memberi hanya ASI untuk Muhammad dan mengajak sebanyak-banyaknya ibu-ibu mengenal ASI. Bunda mulai dengan si Mbak di rumah. Meskipun sepertinya ia tak berniat memiliki bayi lagi, Bunda cerita banyak tentang ASI kepadanya. Semoga ia juga bisa cerita ke tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Sambung-menyambung.

So, yuk, cerita tentang penting dan indahnya ASI kepada siapa pun, di mana pun, kapan pun. Di bus, di angkot, di halte, di taksi, di depan rumah dengan tetangga, di pesta, di arisan, di pengajian, di mana-mana deh pokoknya.

Jangan sampai info penting tentang ASI ini hanya berhenti sampai di sini, di dunia maya atau socmed yang rata-rata pengaksesnya adalah ibu-ibu berpendidikan cukup. Sampaikan juga kepada mereka yang justru tidak mendapatkan cukup pengetahuan tentang ASI dan tidak memiliki akses menuju pengetahuan tersebut. Misalnya ibu-ibu yang tidak ber-socmed dan terpapar TV terus-menerus dalam kesehariannya (baca: menonton iklan sufor).

Yuk, sebar semangat ng-ASI! ASI itu penting, ASI itu indah!

Berikut ini beberapa artikel tentang ASI yang dapat dijadikan rujukan berbagi info tentang ASI:

Mari Berbagi
(Visited 112 times, 1 visits today)
, ,
4 comments on “Indahnya ng-ASI
  1. @ Lidya: Iya…Alhamdulillah kali ini bisa ng-ASI setelah dulu ‘kalah’ waktu Hana… :(

    @ Elsa: Iya, Mbak. Menakjubkan :)

    @ Dija: Gapapa, Dija. Dulu kakak Hana juga hanya dapat sebentar, tapi bisa tumbuh sehat dan pintar. Allah adil, insya Allah tanpa ASI, Dija bisa tumbuh sehat dan pintar juga. Jangan lupa berdoa untuk bunda di sana ya. *peluk Dija* (asli berkaca2 aku nulisnya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *