Kamis Pagi Paling Menyedihkan
Buat Bunda, Kamis pagi tadi sungguh membuat hati pilu.
Sambil menangis dan memeluk, Hana memohon, “Pokoknya Bunda nggak boleh ke mana-mana!”
“Iya, Bunda kan mesti ke kantor dulu, ijin cuti.”
“Nggak usah cuti…huhuhu…Bunda di rumah aja. Jangan kerja…”
Mungkin maksudnya, dia nggak mau Bundanya ngantor. Kayaknya ini masih ada hubungannya dengan libur panjang dulu. Secara, seharian penuh, Hana sama Bunda, and those days were great.
Sejak kecil, padahal Hana sudah terbiasa melihat Bundanya berangkat kerja. Dulu, dibujukin sebentar, langsung lepas. Tadi pagi, susahnya minta ampun. Lengket banget.
Dibujukin beli buku, mainan, majalah, gak mempan. Eh, taunya gampang aja. Bunda cuma tanya Hana mau pakai baju yang mana. Bunda kasih lihat barisan baju di lemari. Terus, Hana pilih satu. Langsung diem.
Tapi, pas diantar ke rumah Jiddahnya (nenek, red) dan ditanya kenapa–karena wajahnya mang masih ada sisa tangisan–, dia mulai mewek lagi.
Sampai-sampai tadi pagi, Jiddah nggak kasih Bunda bicara dengan Hana di telepon.
“Nanti nangis, susah ngebujukinnya,” kata Jiddah.
Secara Bunda nitipin Hana di Jiddah dan nggak mau Jiddah repot, ya nurut aja deh.
Sebetulnya sedih banget. Tadi pagi, hampir ikutan nangis tapi ditahan-tahan. Dah gitu, hampir juga nelepon ke kantor dan ijin nggak masuk. Untung si Abi yang super rasional berhasil ngeyakinin Bunda kalo Hana nantinya bisa dibujukin. Dengan dibonceng motor Abi, Bunda tetap berangkat kerja.
Itulah dilema ibu bekerja. Sebenarnya hati maunya di rumah. Tapi, alasan bekerja kan juga demi anak. Ada sih rasa bersalah (kadang malah gede banget). Tapi ya dikuat-kuatin aja.
Banyak yang dengan mudahnya menyarankan berhenti. Dianggapnyalah ibu bekerja egois karena banyak yang menganggap bahwa ibu bekerja hanya untuk memuaskan aktualisasi dirinya.
Ok, aku akui itu memang juga ada. Tapi, gak semua ibu begitu. Nggak sedikit yang memaksakan diri untuk ngantor dengan alasan keuangan. Ibu seperti itu masih juga harus dihakimi? Duh, mudah-mudahan jangan ya. Karena, pada dasarnya, hati mereka menangis kok.
Apalagi kalau anak sakit. Di kantor, pikiran ya ke anak terus. Nggak tenang. Jangan dipikir si ibu tetap ngantor dengan riang loh.
Oh ya, aku pernah juga merasakan jadi WAHM (Work at Home Mom) alias ibu yang bekerja di rumah. Alhamdulillah, waktu itu kerjaan gak sedikit. Dan, apa yang terjadi?
Di rumah, nggak siang, nggak malam, aku bekerja. Hasilnya, waktu dengan Hana justru gak banyak karena aku dikejar-kejar deadline. Alasan kerja di rumah supaya bisa dekat Hana agak bias.
Sekarang, setelah ngantor, aku justru mengatur sedemikian rupa sehingga ketika di rumah dan saat Hana gak bobo, aku main dengannya. Permainan yang seru, lucu, dan bikin kami makin dekat. Dan, ternyata, semakin gede Hana semakin dekat loh sama aku. Rasa khawatirku dulu, bahwa Hana justru gak akan dekat denganku, justru nggak terbukti.
Sekarang, pk. 23.29, Hana sudah bobo. Dan, waktunya aku untuk memandanginya, sambil membayangkan tingkah anakku semata wayang itu–saat ini, paling gak masih semata wayang–, membayangkan gayanya saat mencari perhatianku, membayangkan tingkah polahnya saat aku dekat-dekat abinya–dia pencemburu berat, aku nggak boleh dekat-dekat abinya loh.
Oh ya, laporan tentang ke dokter kemarin nih. Menurut perkiraan dokter, sakit perutnya itu disebabkan oleh alergi pada sesuatu. Saat ini, kecurigaan masih pada laktosa. Jadi, selama beberapa hari, Hana berhenti dulu minum susu.
Lucunya, tadi pagi aku menawarka dia minum susu.
Eh, dia bilang gini, “Loh, Bunda…Hana kan lagi puasa susu…lupa yaaa?”
Hahaha! Maaf deh, Na. Kan Bunda memorinya nggak sekuat kamu
.
Tentang demamnya, kata dokter nggak perlu khawatir. Mungkin hanya sebagai reaksi atas hawa dingin.
Walau mengantri cukup lama, Bunda cukup puas. Dokter tersebut menerangkan dengan panjang lebar, jadi kemarin itu Bunda benar-benar konsultasi deh judulnya.
Oh ya, tadi Hana dapat boneka dari Tante Novi, ceritanya menyusul besok yaa…









menyenangkan ya ketika menikmati waktu bercengkrama dengan anak. Allah belum mentakdirkan aku untuk menikmatinya untuk sekarang ini, kemaren sempat ada, namun ketika usia kehamilan 2 bulan istri saya keguguran…
hm… lekas sembuh ya, nak… biar bisa bermain seperti biasa.
wad bundanya, ayoh semangat!!!
salam kenal bun…. ..dari WAHM nih….semoga lekas sembuh ya….
Salam kenal tuk bundanya Hana, saya juga bekerja. namun bukan karena aktualisasi diri tapi memang tuntutan…..jujur saja sedih banget ketika harus berangkat kerja…..mungkin pengalaman saya sama persis seperti bunda. Ketika anak sakit, walaupun berangkat kerja namun pekerjaan di kantor gak ada yang bener, salah terus karena selalu ingat sama anak….. dan bunda, saya pun jadi merasa berdosa besar terhadap anak saya, apalagi ketika pulang kantor (jarak kantor ke rumah sekitar 2 jam sekali perjalanan) harus berbenah rumah, dsb sehingga saya capek ….. ketika anak saya ingin bermain yang ada malah saya marahin. sungguh saya merasa berdosa sekali. bagaimana ya bunda mengatasinya, makasih…..
Mama Adnan, sejujurnya, saya juga masih mencari tahu bagaimana mengatasinya. Tapi, satu sisi, apapun itu yang telah ditetapkan Allah pasti ada hikmahnya. Menurut saya, jangan terlalu membebani hati dengan perasaan berdosa itu. Allah Maha Tahu bahwa kita melakukannya bukan untuk bersenang-senang, satu sisi kita juga sedang memperjuangkan rumah tangga dan keluarga kan? Mama saya dulu juga bekerja. Hikmahnya, saya dan adik-adik mandiri dan memahami bahwa Mama melakukan itu semua karena sayang pada kami, sehingga kasih sayang kami kepada Mama tak surut sedikit pun. Mungkin itu yang juga perlu disampaikan kepada si kecil semenjak dini. Terima kasih juga sudah berbagi ya, Mbak.
@ Mas Indra: Turut berduka cita, Mas. Semoga Allah memberikan hikmah yang indah di baliknya.
@ Jeng Tika: Thank you…
@ Mbak Susi: Salam kenal juga, terima kasih.