Kepusutan

ales2

Setiap hari, meski sesibuk apapun, Bunda selalu menyempatkan diri untuk mengobrol santai dengan Hana. Topiknya macam-macam. Tapi, paling sering adalah tentang sekolah.

Kebetulan Hana pernah ada masalah dengan pertemanan. Sahabat yang dekat dengan Hana semenjak awal masuk ‘dikuasai’ anak lain. Namun, perkara ini sudah mulai mereda. Walau begitu, Bunda selalu berusaha memantau perkembangan pertemanan Hana di sekolah melalui cerita Hana.

“Sekarang Hana dan Nana gimana?” tanya Bunda.

“Sekarang Hana udah boleh main lagi sama Nana, Bunda.”

“Mutia gimana?”

“Ikut main juga, bertiga.”

“Bagus dong.”

“Iya, Hana udah nasihatin Mutia supaya kalau bermain itu harus kepu…kepu…kepusutan bersama.”

Diam.

“Hahahaha…”

“Aaah, Bunda, jangan ketawa…” Hana mulai kesal karena ia tak suka ditertawakan.

“Hihihi…kepusutan…”

“Bundaaaaa!” Hana mulai merengek.

“Ih, gak apa-apa tau, lucu. Kepusutan.”

“Hana nggak mau lucu, Hana maunya cantik.”

“Lucu juga ok kok. Bunda sayang anak lucu,” kata Bunda sambil cium-cium Hana.

“Hahahaha…” Hana ikut tertawa.

Dan sepanjang sore, kami menyebut kepusutan berkali-kali dengan gaya berbeda-beda.

Bukannya gak mau membetulkan kesalahan Hana dalam berkata-kata, karena gak lama setelah itu dia sudah mengoreksi diri sendiri, ia tahu bahwa yang betul adalah keputusan.

Tapi, Bunda sedang mengajarkan Hana bahwa gak apa sekali-sekali menertawakan diri sendiri.

😉

Mari Berbagi
(Visited 4 times, 1 visits today)
, , ,
3 comments on “Kepusutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *