Nomor Telepon dan HP Dokter, untuk Apa?

Bukan SKSD, tapi Bunda memang hobi nanya nomor telepon / HP dokter. Ada yang tidak memberikan — atau ragu memberikan, tapi banyak yang dengan santainya memberikan, ditambah dengan kalimat, “Kalau ada apa-apa telepon aja ya.” :) Dan, biasanya yang seperti itu DSA alias dokter spesialis anak.

Nah, walaupun dokternya sudah seterbuka itu, Bunda kadang sungkan dan hanya bertanya jika memang sangat darurat keadaannya. Dan, diusahakan bertanya dengan singkat, padat, dan jelas.

Bukan apa-apa, pasien dokter tersebut pasti buanyak banget. Yang SMS/telepon bukan cuma Bunda saja.

nomor telepon HP dokterDan, yang paling penting, Bunda selalu mengusahakan juga untuk tidak menanyakan obat. Biasanya Bunda memberi gambaran tentang gejala penyakit anak-anak Bunda, lalu bertanya apakah harus diperiksa ke dokter, atau dipantau dulu sehari-dua hari.

Memang sih, tak jarang pada akhirnya sang dokter akan bilang, “Bawa aja ke sini ya, Bu. Supaya bisa diperiksa langsung.” Tapi, paling nggak, respon dari si dokter bisa bikin Bunda sedikit tenang.

Selain itu, fungsi lain nomor telepon dokter adalah untuk cek n ricek apakah penjelasan si dokter saat kami periksa sudah benar Bunda pahami. Hihi, oke deh, ngaku. Untuk tanya lagi tentang penjelasan sang dokter, karena Bunda suka lupa. Kalau lagi bener sih, biasanya dicatat di kertas atau di HP, tapi kadang Bunda suka sotoy dan yakin aja gitu, bakalan inget. Eh tau-tau sampai rumah nge-blank. “Tapi dokternya bilang apa ya?” DOENG! ^_^

Jadi, ini ringkasan catatan Bunda tentang nomor telepon dokter:

  • Selalu minta nomor telepon / HP dokter yang kita nyaman dan akan jadikan dokter langganan.
  • Dalam meminta nomor telepon, jangan pake acara maksa atau ngancem. Misalnya, “Kalau dokter nggak kasih, saya lapor ke IDI, ya!” Hihi.
  • Simpan nomor telepon dengan baik. Catat di buku rumah sakit, di buku catatan, di semua HP. Jangan sampe besok nanya lagi, nanya lagi, entar dokternya sebel!
  • Jangan langsung telepon! Sebaiknya SMS dulu (atau whatsapp kalau dokternya punya akun whatsapp).
  • Dan, sabar ya. Jangan serbu HP si dokter dengan SMS kita, setiap lima menit SMS karena belum dibalas juga. Beri waktu satu-dua jam hingga SMS kita dibalas.
  • Isi SMS sebaiknya sopan, singkat, padat, dan jelas.1. Dimulai dengan salam (Assalamu’alaikum atau selamat pagi-siang-sore-malam), 2. Beri nama pasien dan hal khusus tentang pasien jika ada (misalnya: Saya Bunda Muhammad, 1 tahun 4 bulan, lahir dg TAVB, pasang alat pacu usia 2 hari), 3.Ceritakan gejala penyakit (Sejak hari Rabu–sudah 3 hari–demam sekitar 38-39 C, batuk, pilek, atau yang lainnya), 4. Jelaskan home-treatment yang kita laksanakan (sudah diberi parasetamol), 5. Tanyakan apa sebaiknya tindakan selanjutnya (dibawa periksa ke dokter atau lanjut home treatment). 6. Ucapkan maaf karena telah mengganggu (terutama jika SMS saat weekend/libur) dan ucapkan juga terima kasih. 7. Salam penutup. Hihi…panjang juga ya? Nggak kok, biasanya Bunda hanya memakan 2 SMS. 
  • Jangan sebarluaskan nomor telepon sang dokter. Bahkan ke teman yang mengaku dia pasien dokter itu juga. Urusan nomor telepon atau HP bersifat pribadi. Sarankan kepada teman tersebut untuk meminta langsung saat ia berkunjung.

Kira-kira segitu dulu catatan Bunda. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh lho. ^_^

Sumber foto dari SINI. Ehem…ganteng juga dokternya. *kabooorrr*

Mari Berbagi
(Visited 417 times, 1 visits today)
2 comments on “Nomor Telepon dan HP Dokter, untuk Apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *