Prestasi Akademik Anak

Hari Sabtu minggu lalu, Hana mendapat rapot bayangan, yang merupakan hasil Ujian Tengah Semester beberapa waktu silam. Hasilnya memuaskan. Rata-rata 92 dari 12 mata pelajaran.

Semenjak awal masa sekolah Hana, Bunda dan Abi sudah sepakat untuk tidak menitikberatkan pada prestasi akademik anak di sekolah. Bagi kami, nilai hanya sebatas acuan untuk mengukur sejauh mana anak memahami apa yang mereka pelajari di sekolah.

Kami lebih suka jika Hana memiliki keahlian atau kemampuan khusus. Karenanya, kami sangat mendukung Hana aktif di Dongeng Minggu.

Berdasarkan kesepakatan itu, kami tidak pernah memforsir Hana dalam belajar. Seminggu sekali, semenjak TK, Hana dipanggilkan seorang guru les. Sebelumnya, guru tersebut hanya untuk membantu Hana melancarkan membaca. Sekarang, Hana sudah lancar membaca.

Jadi, fungsi guru tersebut sebatas mengajak Hana mengulang pelajaran dan berlatih soal, yang tujuannya adalah untuk mengukur daya serap Hana di sekolah. Dan, Bunda ingin yang dipelahari Hana di sekolah adalah ilmunya. Bukan mempelajari soal yang pada akhirnya bertujuan untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Bahkan, kepada guru tersebut, kami mewanti-wanti sang guru untuk santai saja dalam mengajar Hana. Biarkan Hana belajar dalam suasana menyenangkan.

Setiap pulang sekolah, Hana tidak kami suruh belajar. Biar dia refreshing dulu. Entah main game atau tidur siang barang satu atau dua jam — kalau lebih, bahaya…bisa-bisa malam baru bisa tidur lagi jam 12!

Tapi, terkadang, Bunda iseng-iseng menanyakan apa saja yang ia alami di sekolah bersama teman-temannya atau belajar apa saja ia hari itu. Jika ada pelajaran baru, Bunda coba untuk menguji penyerapannya. Melalui cerita Hana, Bunda dapat melihat sejauh mana ia menyerap pelajaran.

Pernah suatu kali, ia bercerita bahwa hari itu ia belajar surat Al-Ashr, “Jadi itu surat tentang masa. Kata Bu Guru, kita harus sesuai dengan masa. Misalnya, kalau sedang waktunya bermain, ya bermain. Kalau belajar ya, belajar. Jangan kalau belajar malah bermain. Nanti kita jadi orang merugi.”

Dan, sorenya saya dan Abinya mengajak Hana sholat Maghrib berjamma’ah. Namun, sata itu, ia sedang bermain di komputer. Ia bilang, sholatnya nanti saja. Wah, kebetulan, pikir Bunda.

“Na, inget nggak tadi kata Bu Guru tentang surat Al-Ashr? Kalau waktunya sholat, terus dipakai bermain, nanti Hana jadi orang yang merugi lho.”

Akhirnya, Hana pun sholat berjamma’ah dengan kami.

Intinya, jika memungkinkan, Bunda berusaha mengaplikasikan apa yang Hana pelajari di sekolah dalam keseharian. Toh pada akhirnya, memang itu kan tujuan belajar? Bukan semata agar anak mendapat nilai bagus?

Namun, saat pembagian rapot kemarin, sayangnya Bunda sempat goyah — pengakuan dosa nih. Karena, guru les Hana, yang kebetulan anaknya juga bersekolah di kelas yang sama dengan Hana, kecewa karena nama Hana tidak terdapat dalam urutan 10 perolehan nilai tertinggi di kelas. Menurutnya, Hana punya kemampuan untuk itu.

Bunda awalnya santai saja. Karena toh memang Bunda tidak mempersoalkan apakah Hana termasuk yang terpandai atau tidak di kelasnya. Yang penting Hana dapat menyerap pelajaran dengan baik. Titik.

Tapi, kegoyahan Bunda semakin menjadi ketika dapat info lagi dari orang tua murid lainnya yang anak pertamanya sudah kelas tiga di sekolah yang sama dengan Hana. Katanya, dari tiga kelas, akan dipilih 10 anak terpandai di kelas untuk ditempatkan di kelas unggulan. Dan, menurutnya lagi, kelas unggulan itu baik, karena dapat memacu semangat belajar anak. Kenapa? Alasannya sederhana saja, semua anak di kelas itu pandai , jadi anak tentunya tidak mau dong ketinggalan dari teman-temannya?

Saat Bunda pulang, Bunda bicarakan hal ini dengan Abi. Abi sih simple saja, “Kalau anaknya mampu ya silakan.

Untunglah, sore harinya, kami berkunjung ke rumah Jiddah Hana dari pihak Abinya. Kakak si Abi yang telah memiliki tiga anak — yang terkecil kelas 5 SD — tinggal di rumah yang sama. Bunda pun meminta pendapatnya — seperti biasa, kakak ipar Bunda ini memang selalu menjadi tempat Bunda bertanya tentang perkembangan, pendidikan, dan kesehatan anak.

“Begini, ada kekhawatiran, kalau anak diforsir sejak kelas satu, nantinya di kelas yang lebih tinggi dia sudah jenuh,” jelasnya.

Lalu, kakak ipar Bunda yang bernama Ella tersebut juga menceritakan tentang seorang anak yang diforsir semenjak kelas awal di SD dan saat kelas 5, anak itu mogok sekolah. Wah…Bunda tidak mau itu!

“Teman Ella pernah berdiskusi dengan seorang psikolog tentang anaknya. Ia ingin memaksimalkan nilai si anak. Karena, menurutnya, anaknya bisa mendapat nilai sempurna (100) jika “ditelateni” — selama ini si anak mendapat nilai 80 saja. Tapi, apa kata sang psikolog? ‘Bu, sekarang saya tanya, apakah seimbang stres yang dialami anak Ibu dan Ibu saat “menelateni” anak Ibu dengan kenaikan nilai tersebut? Apakah 20 poin cukup untuk membayar stres yang anak Ibu dan Ibu alami?‘ Kalau menurut Ella, nggak seimbang, Nad. Biarkan anak belajar dengan santai, tapi tetap dipantau. Jangan sampai nilainya jelek juga. Hana segitu sih udah bagus.”

Huaaaaa! Bener juga! Bener banget! Akhirnya, Bunda kembali teringat pada idealisme Bunda. Bunda ingin Hana menganggap belajar adalah hal yang menyenangkan. Dan, sebenarnya, Bunda sudah berada di track yang benar. Kadang, tanpa disuruh, Hana membaca buku-buku pelajarannya. Ia yang memilih sendiri. Dan, komentarnya tentang apa yang ia baca juga melegakan hati.

“Hana suka deh pelajaran IPS ini, Bun!”

Jadi, kenapa Bunda harus pusing-pusing lagi? Untung Bunda mendapat pencerahan dari kakak ipar Bunda yang baik hati itu. Jadi, Bunda tidak salah langkah dalam mendidik Hana, sesuai dengan tujuan Bunda dan Abi.

Tapi, tentunya, setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda. Tak sedikit yang menerapkan disiplin dalam belajar. Itu juga baik. Dan, mungkin memang tujuan akhir si orang tua harus ditempuh dengan pola disiplin dalam belajar.

Bunda juga sangat menghargai itu. Karena, pada akhirnya, kita semua tahu betul, bahwa tak ada yang diinginkan orang tua atas anaknya selain kebaikan. Dan, dengan cara masing-masing, tentunya orang tua memberikan yang terbaik bagi anak.

Dan, bagi Bunda dan Abi Hana, yang terbaik dan terpenting adalah membuat anak mencintai dan menikmati proses belajar. Prestasi akademik adalah hal kesekian yang tidak menjadi prioritas kami dalam mendidik Hana. Tentunya, jika ia berprestasi, kami akan memberinya penghargaan. Tapi, jika tidak, kami tetap akan mendukungnya.

Semangat!

;)

[Keterangan gambar: Hana saat mengenakan seragam Hizbul Wathan alias seragam Pramuka ala sekolahnya.]

12 Comments on Prestasi Akademik Anak

  1. Bunda Farras
    October 27, 2010 at 09:43 (3 years ago)

    bener bun .. tugas kita adalah mendukung anak utk bisa mencapai prestasi sesuai dengan kemampuan mereka sendiri … yakin koq kk hana pinter .. gak di forsir aja nilainya bagus ya kak .. ;)

    Reply
  2. lidya
    October 27, 2010 at 09:51 (3 years ago)

    thanks sharingnya ya bun

    Reply
  3. DzakyFai
    October 27, 2010 at 10:14 (3 years ago)

    wah samaan bun, aku juga gak mau maksain harus dapat Peringkat terbaik dan nilai selalu 100……yang penting anaknya gak stress…..

    Reply
  4. Dinar
    October 27, 2010 at 11:10 (3 years ago)

    Alhamdulillaah, senang sekali bertemu dengan yang sepaham.

    Enjoy @school Hana !

    Reply
  5. Fitri Bunda Nay
    October 27, 2010 at 15:05 (3 years ago)

    Betul…betul..betul…., thanks bun sharing nya :)

    Reply
  6. Bunda
    October 27, 2010 at 19:59 (3 years ago)

    @ Bunda Farras: :D terima kasih, tante…yup, penting jg anak2 menjadi diri sendiri ya :D

    @ Mb Lidya & Bunda Nay: Sama2 :D tkyu jg mau baca curhat panjang Bunda Hana hehehe…

    @ Bunda Dzaky&Fai: betul…yg penting anak happy ya :D

    @ Dinar: Alhamdulillah…thank you, Tante :D

    Reply
  7. BundaAzam
    October 28, 2010 at 11:20 (3 years ago)

    betul itu bun..setuju banget,thanks ya bun sharingnya..

    Reply
  8. Bunda
    October 28, 2010 at 12:01 (3 years ago)

    :) Sama2, Bunda Azam, thanks juga dah mampir…

    Reply
  9. hana
    November 1, 2010 at 18:20 (3 years ago)

    hehehehehehehehehehehehehehehehehehe, bukan wathan bunda hizbul wathon

    Reply
    • Bunda
      November 2, 2010 at 07:26 (3 years ago)

      Hehehe…iya deh, Na. Makasih udah dikoreksi ya. Muach!

  10. Allisa Yustica Krones
    November 2, 2010 at 09:45 (3 years ago)

    what a inspiring writing, bund… tks yaa…

    Setuju, yang paling penting anak enjoy dan memahami arti belajar, gak hanya sekedar mengejar nilai saja :)

    Reply
  11. Bunda
    November 3, 2010 at 01:09 (3 years ago)

    Sama2 :D . Tkyu dah visit juga ya. Betul sekali ttg mengejar nilai. Kalau nilai tinggi dan memahami pelajaran, itu bagus. Tapi, kalau nggak, kasihan si anak :) .

    Reply

Leave a Reply