Selamat Jalan, Dr. Didi

Tanggal 6 Maret, Oom Didi ulang tahun. Aku pun mengirimkan BBM kepadanya. Ia jawab, terima kasih. Pada hari yang sama, Bunda tahu, Oom Didi menjalani salah satu rangkaian pengobatan. Bunda pun berdoa untuk beliau.

Akhir minggu, ada beberapa pertanyaan yang menggelayut di benak Bunda tentang kehamilan. Tapi, entah mengapa, rasanya berat sekali mengetik pertanyaan itu di BBM untuk Oom Didi. Ah, nanti saja deh tanyanya, pas konsul, pikir Bunda.

Selasa siang, Mama menelepon. “Kak, kata Tante Susi, Oom Didi masuk ICU.”

“Hah?!”

Segera Bunda cek di FB menantu Oom Didi yang juga teman Bunda. Benar, Oom Didi masih di rumah sakit. Tapi tidak ada info yang menunjukkan bahwa beliau dirawat di ICU. Namun, setelah Bunda tanyakan kepada sang menantu, benar adanya. Kondisi Oom Didi memburuk.

Bunda dan Mama Bunda merasa lemas. Kami bertekad menjenguk keesokan harinya.

Pada hari Rabu, 14 Maret 2012, Bunda dan keluarga beserta beberapa tetangga pun menjenguk. Namun, kami tidak dapat bertemu langsung dengan Oom Didi karena memang dibatasi. Kami bertemu dengan istri beliau yang memang sahabat Mama.

Air mata mengalir deras di pipi Bunda, karena menurut sang istri, saat itu kondisi Oom Didi memang sangat buruk.

Karena tidak ingin mengganggu lebih lama, kami pulang. Tapi, Bunda masih menyimpan harapan, kondisi Oom Didi akan membaik. Doa terus Bunda panjatkan kepada Allah SWT.

Tapi, ternyata Allah berkehendak lain. Allah membebaskan Oom Didi dari rasa sakitnya sore itu. Diiringi hujan, Bunda menangis di rumah. Semua kenangan dengan Oom Didi terbayang. (Saat menuliskan ini sekarang pun air mata Bunda tumpah).

Bunda baru bisa melayat ke rumah Oom Didi keesokan harinya. Namun sayang, Bunda tak sempat melihat Oom Didi untuk yang terakhir kali. Karena saat Bunda tiba di sana, jenazah sudah sedang dimandikan. Tapi alhamdulillah, Bunda sempat duduk di sebelah jenazah Oom Didi setelah itu untuk melantunkan surat Yasin untuk beliau.

Cita-cita untuk dibantu oleh Oom Didi di anak yang kedua ini tidak kesampaian. :( Seperti kekhawatiran Bunda dulu.

Salah satu alasan Bunda akhirnya memutuskan untuk menyegerakan kehamilan kedua ini adalah karena Bunda khawatir Oom Didi pensiun.

Adik ipar Bunda masih sempat ditolong beliau bulan Mei 2011 silam. Dan, saat Bunda menjenguk, bertepatan dengan saat Oom Didi memeriksa adik ipar Bunda itu.

Tante Bunda yang juga dibantu oleh Oom Didi sempat berceletuk, “Wah, Mas, masih nggak berubah aja dari dulu. Sehat terus ya, Mas.”

Aku bilang, “Iya dong, kan aku nanti juga mau lahiran sama Oom Didi.”

Seperti biasa, Oom Didi senyum-senyum saja. Senyum khasnya.

Saat itu lah, Bunda berkeinginan untuk segera hamil lagi. Tapi memang Bunda baru bisa memulai usaha untuk hamil lagi pada bulan September, setelah pindahan ke rumah kontrakan. Supaya lebih santai. Tapi Bunda baru diberi kepercayaan oleh Allah untuk hamil pada bulan Januari.

Walau begitu, Bunda bersyukur masih sempat dua kali memeriksakan kandungan dengan Oom Didi. Bahkan si Adek juga pemunculan perdananya di layar monitor USG setelah dicari-cari oleh Oom Didi :). Katanya si Adek lagi mojok, ngumpet.

Selamat jalan, Oom Didi. Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan Oom Didi dan segala bantuan Oom Didi untuk kami. Semoga Allah memberikan cahaya yang terang dan kubur yang lapang untuk Oom di sana. Aamiin.

Mari Berbagi
(Visited 14 times, 1 visits today)
,
6 comments on “Selamat Jalan, Dr. Didi
  1. terimakasih ceritanya mba… saya salah satu pasien beliau yg cukup lama nggak bertemu. rencananya besok mau kontrol kb sama beliau, tapi pas telpon rs, diberitahu beliau sudah meninggal… rasanya lemeess banget… dari sejak keguguran, hingga 2 anak saya lahir ditolong dr. Didi…
    semoga semua amal baik beliau diterima oleh ALLAH SWT… amin :-)

  2. Sama2, Mbak Vita. Sampe sekarang kalo inget beliau, saya masih suka nangis. Bahkan suami pun masih suka cerita-cerita ttg Oom Didi. Kenangan waktu kami periksa dan lahiran.

    Aamiin. Oom Didi orang baik, insya Allah diberi tempat yang indah oleh-Nya. Aamiin YRA.

  3. Pingback: Periksa Kandungan Menjelang Malam Takbiran | Tingkah Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *