Si Kecil Penjual Telur

Kemarin pagi menjelang siang, Bunda, Abi, Kakak Hana, dan Dek Muhammad pergi ke rumah Jiddah & Jid (Kakek Nenek Hana & Muhammad). Awalnya udara cerah, namun tiba-tiba saat kami di perjalanan berubah mendung, lalu awan menggelap sangat, dan hujan pun turun.

Sesampainya di rumah Jiddah, hujan masih turun. Saat membereskan barang-barang, terdengar seruan kencang dari luar rumah.

“Telor! Telor kampungnya! Telor kampung!”

Suara seorang anak kecil yang renyah itu tertutup bunyi hujan. Kami saling berpandangan. Lalu, dari jendela, tampak sesosok tubuh kecil bertopi lusuh berjalan di bawah tetes air hujan.

“Panggil, Kak. Panggil!” seru Jiddah.

Aku pun memanggilnya.  Kulihat anak itu membawa dua kantung plastik berisi telur ayam kampung. Sepertinya masih utuh, masing-masing terdiri dari sekitar tiga puluh butir. Ya Allah.

Anak itu pun masuk ke halaman rumah Jiddah. Ia duduk, lalu mengusap air hujan dari wajahnya. Tubuhnya kedinginan.

Jiddah keluar rumah sambil menyuruh Bunda membuatkan roti untuk anak itu. Adik Bunda — yang biasa dipanggil Mi Ajib oleh Hana — pun ikut keluar. Sementara Hana hanya memandangi dari balik jendela. Terkesima.

Saat Bunda membuatkan roti, Jiddah membeli telur si anak dan mengajaknya mengobrol.

Anak itu berasal dari Karawang, ke Tebet untuk menjual telur dengan naik kereta.

“Kamu sekolah, nggak?” tanya Mi Ajib.

“Enggak. Nggak ada duit,” jawabnya.

Bunda, Jiddah Emma, dan istri Mi Ajib, Ammah Vivi — dan mungkin Hana — berjuang menahan air mata. Hati kami seakan diremas-remas, sakit sekali. Sedih.

Setelah memberikan roti dan ikut membeli beberapa butir telur darinya, Bunda hendak ke dalam lagi, hendak membuatkan teh hangat karena sepertinya ia kedinginan. Tapi anak itu bersikukuh menolak. Entah kenapa, mungkin ingin buru-buru menghabiskan jualannya dan ingin segera pulang. Padahal hari masih hujan! Subhanallah…gigihnya dirimu, Nak.

Kami pun memandangi kepergiannya dengan hati perih dan seiring doa, “Ya Allah, berilah ia kemudahan dalam menjual telur-telur itu. Aamiin.”

Semoga Allah mengubah nasibmu, Nak. Semoga suatu hari nanti kita bertemu lagi dan pada saat itu engkau telah menjadi seorang pengusaha telur. Aamiin YRA.

 

Mari Berbagi
(Visited 24 times, 1 visits today)
, , ,
3 comments on “Si Kecil Penjual Telur
  1. Iya. Gak kebayang dia harus jauh2 berjuang menjajakan telur2 itu. Sampai malam, kami masih membahas tentang anak itu dan hati masih seperti teriris-iris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *