Tantangan Menjadi Orang Tua

Pernah salah seorang sahabat saya (seorang ayah) mengeluh kepada saya betapa repotnya mengasuh anaknya yang batita (bersama sang istri sebetulnya, jadi ia tidak sendiri). Ia menambahkan, “Lo sih enak, Hana udah gede, bisa urus diri sendiri ya.”

Kalau tidak salah, saat itu Hana kelas dua SD.

Saya tersenyum dan saya katakan kepadanya, “Kerepotan dalam mengasuh anak sebenarnya akan selalu ada, dan berkembang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.”

Ia tetap keukeuh, bahwa anak lebih besar lebih mudah diasuh dan diurus. Well, baiklah. :)

Tapi, hingga detik ini, hingga Hana sudah duduk di kelas satu SMP, saya masih dengan pendapat saya. Bahwa usia anak tidak berbanding terbalik dengan kerepotan orang tua dalam mengasuh. Dan tidak berbanding lurus juga. Artinya, ya setiap fase usia dan pertumbuhan anak memiliki ‘tantangan’ tersendiri.

perkembangan anak

Dari pengalaman saya, kurang lebih seperti ini:

  • Jika anak masih balita atau batita, orang tua tentu repot dalam hal pendampingan melekat, karena anak masih butuh kita untuk membantunya belajar mandiri.
  • Setelah anak mulai agak besar, usia Sekolah Dasar, kita mulai direpotkan dengan pergaulan anak. Karena anak sedang belajar bertoleransi dengan lingkungannya.
  • Lepas usia Sekolah Dasar, lain lagi tantangannya. Anak secara tak sadar mulai lebih suka meniru lingkungan di luar keluarga ketimbang keluarganya. Di sini kita perlu banyak mengingatkan bahwa teman akan berganti, tapi keluarga tidak. Anak belajar menentukan prioritas, siapa yang harus ia ikuti, teman atau keluarga?

Usia di atas itu? Hehe… jujur, saya sebagai orang tua belum memiliki pengalaman, jadi saya belum merasa pantas berkomentar.

Tapi, menjadi orang tua itu memang akan merepotkan. Dalam film Backup Plan yang saya tonton baru-baru ini, ada seorang calon ayah yang ‘berkonsultasi’ dengan seorang pria yang sudah menjadi ayah. Kurang lebih penjelasan si ayah lama kepada si calon ayah sebagai berikut, “Akan ada masa sulit, sulit, sulit, tapi kemudian akan ada masa mudah yang menyenangkan. Lalu sulit, sulit, sulit lagi, baru kemudian mudah kembali. Lalu nanti sulit lagi.”

Si calon ayah yang memang sedang mencari penguatan dalam menghadapi kehidupannya yang akan berubah karena kehadiran anak tentu mengernyit. Hihi.

Tapi ya, si ayah lama nggak salah juga. DIa mungkin hanya mempersiapkan si calon ayah akan kemungkinan terburuk. Walau pada kenyataannya, semestinya nggak separah yang ia gambarkan juga, sih.

Jadi, kembali kepada tantangan menjadi orang tua, mungkin yang perlu dilakukan untuk meminimalisir berbagai kesulitan pengasuhan yang dihadapi adalah bersyukur akan masa mudah yang menyenangkan. :)

Untuk semua orang tua di luar sana, la tahzan, kalian tidak sendiri. 😉

Foto dari pinterest.

Mari Berbagi
(Visited 13 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *